Deskripsi
Buku “Jejak Cahaya Roh Kudus: 25 Tahun Menjaga Api Perutusan dan Kesetiaan Profetis” merupakan sebuah epifani dan refleksi teologis yang mendalam atas sejarah ziarah pelayanan Provinsi SSpS Flores Barat. Karya ini melampaui sekadar dokumentasi kronologis administratif, dengan memosisikan rentang sejarah tersebut sebagai ruang nyata di mana penyelenggaraan Ilahi dan karya keselamatan Allah terus berlangsung di tengah berbagai keterbatasan manusiawi.
Pada bagian awal, buku ini merekam fase perintisan yang bersahaja pasca pemekaran Provinsi Flores pada tahun 2001. Dari titik tersebut, langkah perutusan diarahkan menuju “Misi Frontir” di wilayah pinggiran Sumba dan Sumbawa. Para suster secara berani melintasi batas-batas teritorial dan kenyamanan untuk hadir di ruang-ruang kehidupan yang terpinggirkan oleh kemiskinan struktural, minimnya fasilitas dasar, serta kompleksitas pluralitas budaya dan agama. Keberhasilan misi di fase ini tidak dibangun melalui program yang instan, melainkan melalui spiritualitas kehadiran jangka panjang, dialog kehidupan yang tulus, dan pendekatan transformasional seperti pemberdayaan perempuan.
Seiring berjalannya waktu, narasi bergerak menyoroti fase kematangan institusional dan profesionalisasi karya. Buku ini merekam bagaimana dedikasi karismatik bertransformasi menjadi pelayanan yang semakin terstruktur dan profesional, baik melalui pengembangan jaringan pendidikan (seperti Yayasan Dian Yosefa), asrama sebagai pusat pembinaan karakter generasi muda, maupun adaptasi pola pelayanan kesehatan dari pendekatan kuratif menuju preventif. Fase
ini juga menguji daya tahan lembaga dalam merespons krisis global, terutama ketika pandemi COVID-19 menghantam stabilitas ekonomi dan operasional karya.
Secara jujur dan reflektif, penulis mendedikasikan satu bagian khusus untuk membedah “Masa Rapuh”. Bagian ini mengungkap dinamika krisis yang sempat melanda komunitas, seperti fluktuasi panggilan hidup membiara, tekanan biaya operasional yang meningkat, kelelahan pelayanan (burnout), hingga ketegangan relasi antar-generasi. Namun, alih-alih dipandang sebagai
kemunduran, kerapuhan ini dimaknai sebagai rahim pemurnian spiritual. Di titik inilah, penghayatan kaul-kaul religius diperdalam, membuktikan bahwa kekuatan sejati perutusan justru lahir dari kesetiaan yang bertahan di dalam ketidakpastian dan keterbatasan.
Lebih dari sekadar menengok masa lalu, karya ini juga berfungsi sebagai kompas pastoral melalui analisis “Tanda Zaman”. Buku ini menelaah tantangan sosial kontemporer yang mendesak, seperti kerapuhan relasi keluarga akibat tingginya arus mobilitas dan migrasi tenaga kerja, ancaman krisis ekologis di wilayah Flores, hingga tantangan literasi dan kesehatan mental generasi muda di tengah pusaran arus budaya digital. Sebagai respons, pelayanan JPIC (Justice, Peace, and
Integrity of Creation) semakin diperkuat untuk membela martabat manusia, khususnya dalam pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) serta perlindungan kaum rentan.
Sebagai penutup, buku ini merumuskan sebuah Visi Profetis jangka panjang yang berakar pada prinsip “Kesetiaan Kreatif”. Sebuah panggilan bagi setiap anggota untuk tetap teguh pada karisma Kongregasi, sembari terus berinovasi, berkolaborasi secara sinodal dengan kaum awam, dan membangun kemandirian ekonomi karya. Pada akhirnya, warisan sejarah ini menyerukan pesan yang kuat: api perutusan tidak dinyalakan untuk sekadar dikenang di masa lalu, melainkan harus terus dijaga, dimurnikan, dan dihidupi di tengah dunia yang terus berubah.





